Are You Stuck in A Toxic Family Relationship ?


Hello, masih quarantine ? Atau udah bersiap-siap menyongsong new normal ? Udah mulai bosan dan cape sama semuanya ya ? Gapapa, sabar dulu. Sehat-sehat ya semuanya J

Akun blog ini sempat ke suspend kemarin, karena kebanyakan self clicking haha, pansos diblog sendiri sih. But gapapa, bukan jadi alasan buat berhenti nulis kan ?

Kemarin di twitter ada yang bilang “kuliah online cuma cocok buat mereka yang keluarganya harmonis”, How ? Setuju ? Atau ngga ?

Ada juga tweet sejenis yang isinya “Mending punya keluarga yang broken home daripada utuh tapi mulutnya kaya pisau semua”, pilih mana ? Yup, itu bukan pilihan yang bisa dipilih. Gak ada manusia yang mau milih diantara pilihan yang sama-sama ga nyenengin, kecuali emang harus dan udah diujung cerita, ya kan ?

Pagi tadi, waktu cari jurnal buat tugas, ga sengaja ketemu statement “A healthier family relationship is one of the best way for the students in order to ease the worsening situation”

Terus apa keterkaitan itu semua ? Tweet dan statement di jurnal tadi secara ga sengaja saling berhubungan. Di kondisi pandemi kaya gini, ditambah aktivitas kuliah online di rumah, sebenernya itu bikin jenuh. Gak semua orang merasa nyaman dengan kuliah online, banyak kendalanya, mulai dari kuota, jaringan, sampai keluarga yang mengganggu. Statement di jurnal tadi jadi penjelas bahwa memang kondisi hubungan keluarga yang baik adalah salah satu cara terbaik buat ngurangin situasi yang buruk dikala kuliah dengan sistem yang kaya gini.

Sayangnya, ga semua orang (especially pelajar) terlahir di lingkungan keluarga yang harmonis. Gak sedikit juga yang terlahir dan hidup di lingkungan “toxic family relationship”. Ini yang jadi masalah, kendala besar juga saat kuliah di rumah, bahkan tidak ada kuliah online di rumah pun hal ini sudah jadi problem sendiri. Its not simple thing.

Jadi, apa toxic family relationship ? Sebenernya belum ada statement dari pakar yang menjelaskan artinya secara mendalam, tapi toxic family relationship ini merujuk kepada hubungan keluarga yang saling menyakiti baik secara fisik atau psikis. Pelakunya siapa ? Tentu keluarga sendiri, mulai dari ayah, ibu, adik, kakak, atau siapapun mereka yang ada dikeluargamu.

Ciri-cirinya ? Coba inget lagi masa kecil kalian, agak susah sih buat mengenali seperti apa keluarga yang toxic. Kenapa ? Karena kadang diri sendiri juga mikir “tapi ini keluarga aku, ga mungkin mereka kaya gitu”. Tapi kenyatannya ? Kalian tertekan di keluarga sendiri, kalian menghindar dari perkumpulan keluarga, kalian cemas buat ketemu. Kenapa ? Tentu karena kalian ga nyaman. Kenapa kok ga nyaman ? Ya karena kalian pernah punya pengalaman ga enak. Pengalaman yang kaya gimana ? Banyak contohnya, sakit hati karena omongan, tertekan karena terus dituntut, pernah dimarahin, pernah ngalamin siksaan, dan banyak lagi contohnya.

Coba kita ulas satu-satu ciri-cirinya :

  • 1.      Kalian dituntut buat menuhin standart yang gak realistis

Setiap anggota keluarga pasti bakal ambil peran yang berbeda buat saling membantu. Semacam pembagian tugas siapa yang harus mencuci piring, siapa yang menyapu, siapa yang membersihkan meja, dan tugas lain. Ini semua normal kok. Tapi, akan jadi salah kalau sampai tugas-tugas ini membuat kalian gabisa nyelesain tugas sekolah, gak bisa main, bahkan gak bisa tidur dengan cukup.

Ingat dikalimat pertama “saling membantu”, tapi pada akhirnya kalian mengerjakan semuanya sendiri dan kalian dituntut untuk bisa melakukan hal yang seharusnya itu belum saatnya. Ini normal, jika batas-batas tanggung jawab itu diterapkan. Anak-anak akan tetap anak-anak, bukan orang dewasa dengan ukuran mini. Beri tugas yang seharusnya, bukan tugasmu yang malah kau serahkan pada anggota keluargamu yang lain.

  • 2.      Dikritik dengan keras

Orang tua pasti akan menegur dan mengkritik perilaku anak-anak. Lagi-lagi ini normal, sangat normal, jika komentar yang diberikan sifatnya konstruktif dan fokus sama perilaku si anak, bukan malah merendahkan. Menjadi toxic, ketika kritik yang diberikan dilakukan secara terus menerus tanpa mengoreksi kesalahan di diri sendiri. Menjadi toxic, ketika kritik yang diberikan bikin si anak merasa gak dicintai, bikin si anak ngerasa dia anak tiri. Coba disaring apa yang harus dikatakan, lihat juga usia si anak dan kesalahannya. Sekali lagi, anak tetaplah anak, bukan orang dewasa dalam ukuran mini.

  • 3.      Kebutuhan kalian tidak terpenuhi

Tidak ada orang yang terlahir sempurna, ya mungkin orang tua kita bukan dari kalangan menengah ke atas, bukan orang yang bisa menjemput sepulang sekolah tepat waktu, bukan orang yang bisa membayar tagihan sekolah dengan mudah. Tapi, orangtua tetap akan mengusahakan apapun untuk anaknya, mulai dari memberikan kasih sayang, menjaga kesehatan anak, memberikan pendidikan, memastikan si anak memiliki makanan untuk dimakan, membelikan pakaian yang layak. Keluarga yang sehat akan menguapayakan itu semua, dengan segala cara. Percayalah J

  • 4.      Orangtua yang sangat terlibat dalam kehidupan kita dan tidak memberikan ruang untuk pertumbuhan, mungkin juga gagal memenuhi kebutuhan dasar (atau mungkin sengaja).
  • 5.      Merasa dikendalikan

Dalam lingkungan yang toxic, akan ada pihak yang egois dan ingin mengendalikan aspek utama kehidupan kalian, mulai dari karir hingga hubungan pribadi. Ada yang mengatakannya langsung, ada yang langsung melarang dan membatasi

  • 6.      Tidak ada cinta, kasih sayang, ataupun rasa dihormati

Perselisihan di dalam keluarga adalah hal yang normal. Tapi segalanya jadi gak normal,        ketika di perselisihan itu, anggota keluarga yang lain mengejek dan meremehkan, menyerang titik lemah kita, menghancurkan harga diri.

Di lingkungan keluarga yang harmonis, perselisihan bukan tidak mungkin terjadi, tetapi mereka akan tetap memberikan cinta dan rasa hormat ketika kita memilih jalan kita sendiri.

 

Awalnya, mereka yang ada di lingkungan toxic family tidak akan merasa jika mereka ada di lingkungan yang tidak baik. Tapi, seiring berkembangnya usia dan ruang pribadi (baik fisik maupun emosional) akhirnya mereka akan merasa bahwa mereka butuh kemandirian dan kesempatan untuk membentuk diri.

Yuk coba mulai pikirkan perasaan kalian saat berinteraksi dengan anggota keluarga. Kalau, kalian merasa gaenak ketika ketemu sama anggota keluarga, entah itu rasa cemas atau tidak nyaman, jelas itu perlu ditinjau, kalau kalian overthinking setiap berinteraksi dengan mereka, mencoba menghindar terus menerus, selalu membuat kesalahan yang sama, tidak menjadi diri sendiri saat ada di sekitar mereka, tidak pernah mengaku salah dan sering berselisih, bisa jadi kalian sedang berhadapan dengan toxic family.

Trus kita kudu ngapain ? Believe me, memutus hubungan keluarga bukanlah hal yang baik, terlebih apabila ada ikatan darah.Tapi membiarkan diri sendiri terluka dan nanggung beban mental juga bukan hal yang baik, suatu hari akan meledak. Mungkin, kalau ada dihubungan percintaan yang toxic, kita bisa memilih putus, tapi ini keluarga, bukan perkara yang mudah.

Menjadi lebih tegas dan berani. Menurutku, itu cara yang paling tepat. Menghindar dari perpecahan itu percuma, kita cuma nimbun rasa sakit sendiri demi rasa aman yang juga ga aman-aman banget. Beri tau apa yang kamu mau,apapun resikonya entah itu baik atau nggak, entah itu disetujui atau nggak, entah bakal nyiptain perselisihan atau nggak. Ada pepatah yang bilang “Kalau kamu gak pernah tanya, jawabannya akan selalu tidak”. Jadi ? Beritau mereka kalau kalian ga nyaman, beritau kalau kalian ga suka, beritau kalau kalian marah, beritau apa yang kalian rasain.

Trus kalau ternyata gabisa buat jadi berani dan tegas ? Menghindar ! Menghindar tidak sama dengan memutus hubungan ya, tapi mengurangi intensitas buat ketemu. Buat apa ? Buat ngelindungin batinmu sendiri. Egois dong berarti ? Nggak, egois itu perlu selama kadarnya sesuai. Memikirkan orang lain terus juga ga baik kan ?

Apalagi ? Berdoa !! It’s a must. Kan cuma doa yang paling tangguh, minta sama Pemilik Semesta buat ngeluluhin dan ngebuka hati mereka yang toxic.

Dear everyone yang lagi ada disituasi ga menyenangkan, yang lagi ada dipilihan yang sama-sama berat, kalian boleh kok buat milih diri kalian sendiri di atas apapun, kalian boleh kok ngeduluin kebahagiaan diri kalian sendiri. Bukankan lebih baik nurutin ego sendiri daripada menuhin keegoisan orang lain ? Gapapa, hidup kalo ga ada naik turunnya ga seru, hidup kalo ga ada tantangannya nanti flat dong, anggap semuanya cara Pemilik Semesta buat ngedewasain kita.

Kita emang ga bisa milih kan mau lahir dari keluarga yang seperti apa, tapi kita bisa memilih gimana cara ngehandlenya. Cukup dijadiin pembelajaran, nanti saat berkeluarga, buatlah keluarga kalian jadi tempat yang paling nyaman buat pulang.

Semangat !

 


Comments

Popular posts from this blog

Whats Wrong With Being Ordinary ?

Sore Yang Sama

INTRODUCE