Beliau juga pertama kali jadi orangtua

 




Hello, its been a long day tidak menulis di blog. Tapi rasanya hari ini ingin, menumpahkan apa yang sedang dirasakan.


Sekitar 2 bulan terakhir diberi tanggung jawab untuk jadi volunteer disalah satu platform yang concern dibidang psikis remaja. Kebetulan disana aku mendapat amanah untuk menjadi teman bicara yang tugasnya adalah mendengar dan memberikan solusi kepada remaja yang bercerita terkait masalahnya (selama masalah itu tidak perlu ditangani oleh expert), tetapi tetap dalam prakteknya aku harus konsultasi dengan konselor sebelum merespon remaja-remaja ini.


I dunno why, tapi hampir semua remaja yang cerita ke aku topik masalahnya adalah dengan orangtuanya. Mulai dari orangtua yang straight banget, orangtua yang ga ngijinin buat daftar kuliah, orangtua yang selalu ngejelekin putra-putrinya di depan keluarga besar, dan sekelumit cerita yang lain. To be honest, aku juga sedang struggling di topik yang sama dengan mereka sebenernya. Aku tumbuh besar di keluarga yang rumpang. Semenjak ibu tidak lagi di bumi, gambaran tentang orangtua yang lengkap, keluarga yang harmonis dan menyenangkan juga lenyap. Jadi agak lucu, aku tryin ngasih pandangan ke mereka tentang orangtua padahal aku sendiri juga ngerasain hal yang ga jauh beda.


But..

Dari situ aku belajar banyak sekali. Bahwa memang tidak ada keluarga yang sempurna di dunia ini, bahwa setiap anak juga pasti punya ketidakcocokan dengan orangtua (bedanya adalah dalam porsi sedikit atau dalam porsi banyak) dan its okay.


"Beliau juga pertama kali jadi orangtua…" itu adalah kalimat yang sering aku kasih ke remaja yang merasa tidak nyaman dengan keputusan atau tindakan orangtuanya. Awalnya kaya biasa aja, tapi lama kelamaan  aku jadi meresapi kalimat yang aku buat sendiri. Yaa benar, orangtua kita juga pertama kali jadi orangtua, beliau juga pertama kali menghadapi putra-putrinya yang seperti kita. Semua keputusan atau tindakan yang diambil pasti berdasarkan apa yang terbaik menurut beliau. Beliau juga pasti belajar dan mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan/tindakan.


Terus kita sebagai anak harus gimana?

Aku juga bingung wkwkw.

Tapi begini, aku pernah mendengar podcast milik akun youtube Menjadi Manusia yang waktu itu sedang membahas tentang broken home. Disitu ada salah satu pertanyaan kaya gini "sebenernya, anak itu korban dari broken home apa bukan sih?" Ada yang menjawab korban, ada juga yang menjawab bukan korban. Kok bisa gitu? Itu semua bergantung terhadap gimana ekspektasi kita terhadap sebuah keluarga (include orangtua). Kalau dari awal kita berekspektasi keluarga kita akan menjadi keluarga yang harmonis, nyaman, orangtua yang demokratis dan lain hal, maka kita akan merasa menjadi korban dari broken home. Tetapi, kalau kita dari awal sudah punya bayangan kalau setiap keluarga pasti punya lika-likunya, orangtua berpeluang pisah, keluarga tidak harus selalu harmonis, maka kita akan bisa nerima fakta broken home itu dengan legowo, meski prosesnya juga butuh waktu buat nyadarin hal ini.


Terus pinpointnya dimana? Pinpointnya ada dikata "ekspektasi" dan "menerima"

Mengurangi ekspektasi tentang keluarga yang harmonis dan menerima gimana keluarga + karakter orangtua kita yang sekarang. Believe me, ini akan lebih meringankan kita ketika ada disituasi yang tidak menyenangkan dengan orangtua. Setidaknya kita bakal berenti tanya "kenapa orangtuaku beda? Kenapa ga kaya orangtua yang lain?"

Ya karena beda.


Selain itu, komunikasi. Ini susah, tapi penting dan harus. Aku juga sampe sekarang masih susah buat mengkomunikasikan hal yang riskan dengan orangtua. Tapi mau gamau kita harus belajar, karena komunikasi itu satu-satunya cara supaya orangtua tau apa yang kita mau dan supaya kita tau apa sebenernya diinginkan orangtua. Dan jangan lupa selalu berdoa, supaya Allah melembutkan hati orangtua kita. Cuma doa yang bisa nembus hati manusia.


Jadi..

Semoga kita bisa berdamai dan menjalin hubungan baik dengan orangtua kita yaa. Karena bagaimanapun, tanpa beliau kita gak akan ada di bumi. Gapapa, sabar dulu. Sabar bukan berarti diem dan pasrah gitu aja, sabar adalah tetep gigih berjuang, tetep gigih berusaha, tetep semangat berdoa.


Inget,

Beliau juga pertama kali jadi orangtua😊

 






Comments

Popular posts from this blog

Whats Wrong With Being Ordinary ?

Sore Yang Sama

INTRODUCE